Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Februari 2011

Jalan Hidup

Ketika mengetahui kebiasaanku yang suka bicara dan sering memberikan tanggapan serta mengeluarkan ide-ide terhadap setiap persoalan yang terjadi dimasyarakat, dalam sebuah kesempatan seorang sahabat dekatku berkata,

“ Andai kau seorang mahasiswa, aku yakin kau akan jadi seorang aktifis pergerakan yang diperhitungkan.”

“ Diperhitungkan seperti apa maksudmu ?”

“ Yah, mungkin seorang pemimpin organisasi, atau barangkali mahasiswa yang bikin panas kuping pejabat.” Jawabnya bersemangat.

“ Apa yang kau katakan mungkin ada benarnya.” Aku berkata pelan sembari menerawang. Menerawang kemasa silam. Masa ketika baru tamat dari bangku sekolah. Pergi kekota dan sempat duduk dibangku kuliah, namun hanya sampai pada semester lima karena harus berhenti dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

“ Ada benarnya. Apa maksudmu ?” ia bertanya penuh selidik. Sambil menggeser posisi duduknya, Ia menatap wajahku lekat-lekat. Sahabatku yang satu ini memang terbilang agresif pada hal-hal baru yang belum ia ketahui. Meskipun ia seorang gadis muda yang baru tiga tahun tamat SMA, terdftar sebagai mahasiswa dan selalu sibuk dengan dunianya, namun rasa ingin tahunya pada berbagai hal sangat tinggi.

Karena rasa ingin tahunya itu, ia telah berkeliling ke berbagai daerah. Hampir semua tempat-tempat peninggalan bersejarah di tanah air pernah ia datangi. Ia senang begaul dengan siapa saja dan suka membuat catatan-catatan kecil tentang hal baru yang ia temui dibaebagai tempat. Karena kebiasaannya itu pula Tuhan telah mempertemukan aku dengan dirinya.

Dari keperibadiannya yang aku kenal, kami banyak kecocokan. Ia tipe wanita yang berfikiran maju, teguh pendirian dan selalu berpegang pada prinsip. Baginya orang lain boleh berbuat apa saja. Bebas sebeabas-bebasnya. Mengikuti model yang bagaimana, yang setiap saat terpampang dilayar kaca, tapi untuk dirinya tunggu dulu. Baginya tidak semua yang tampak indah dan menarik itu baik. Tidak semua yang diperagakan oleh model-model yang terkenal itu bagus dan sesuai dengan kondisi dan tradisi masyarakat kita. Apalagi jika dirujuk pada ketentuan dan aturan agama yang yang seharusnya itu yang didahulukan.

“ Tapi tidak semua yang datang dari barat itu jelek,” katanya. “ Tinggal kita yang harus memilih mana yang patut dicontoh, mana yang butuh penyesuaian, dan mana yang sma sekali harus ditinggalkan.” Begitu katanya setiap kali diminta tanggapannya tentang kenyataan yang sekarang tengah melanda generasi muda.

Kenyataan dimana generasi muda seperti tidak punya jati diri. Terombang ambing dalam gelombang dan arus budaya. Mengikut kemana angin berhembus. Jadi budak mode dan hamba para bintang idola. Hanyut dalam dunia hura-hura yang penuh kebebasan.

***
“ Aku dahulu pernah juga kuliah disebuah perguruan tinggi,” kataku sesaat kemudian samba l menanatap wajahnya hendak memberi keyakinan.

“Oh, yah. Lalu ?”

“ Yah, seperti yang engkau katkan tadi,” jawabku lesuh sembari memandang keangkasa tepat dimana dua ekor elang terbang melayang. Memutar mengintari areal persawahan. Tempat dimana Pak tani selama ini menggantungkan hidupnya meski kadang harus menelan pil pahit karena gagal panen. Gagal sebab serangan hama dan tak lagi sanggup membeli pupuk yang harganya terus melonjak .

Tibab-tiba salah seekor dari elang itu terbang rendah. Berputar kebawah, menukik cepat lalu hilang diantara semak belukar yang tumbuh liar di atas pematang sawah yang tak terurus. Memang, sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan mencabut subsidi dan menaikkan harga bahan bakar minyak, petani seakan malas mengurus lahan pertaniannya. Harga-harga melambung tinggi, pupuk tak terbeli, sementara serangan hama kian menjadi.

Sesaat kemudian, mahluk yang kelihatan perkasa itu muncul kembali kepermukaan. Kedua kakinya sperti menggenggam sesuatu. Aku yakin benda itu adalah seekor tikus yang malang. Tikus yang menemui ajalnya dikaki elang.

Aku merasa itu hukuman yang setimpal atasnya. Atas segala keserakahannya selama ini. Atau mungkin sang elang sudah muak melihat tingkahnya. Yang hanya bisa menggerogoti hak milik orang lain tanpa pernah perduli berapa banyak orang yang harus menderita akibat dari ulahnya itu.
Memetingkan dirinya sendiri. Merugikan orang lain demi kesenangannya sediri. Demi kejayaan dan kebahagiaannya bersama kelompoknya.

Tapi itulah tikus yang tak pernah tahu akan arti sebuah kerja. Yang tak punya cukup akal untuk berfikir, sampai kapan dirinya harus merugikan pak tani, yang berjuang , bekerja membanting tulang demi sesuap nasi.

“ Hei, ditanya malah melamun. Apa aku telah mengingatkanmu pada sesuatu. Sesuatu yang kurang menyenangkan ? Kalau begitu maafkan aku. Aku sama sekali tidak bemaksud hendak menyakitimu. Maaf.”

“ Oh, tidak. Tidak Ana. Hmm, kamu tidak bersalah. Aku hanya sedang berfikir, seandainya aku masih kuliah seperti dulu,apakah mungkin kita akan pernah bertemu seperti sekarang “. Jawabku mencoba mengalihkan perhatiannya yang terlihat khawatir.

“ Tapia apa hubungannya ?” ia bertanya sesaat kemudian. “ Apa hubungannya dengan yang kita bicarakan tadi ?” ia kembali pada sifat aslinya. Banyak tanya.

“ Yah seperti yang tadi kamu katakana. “ Kataku mengulang kalimat yang sempat terputus.

“ Mengatakan yang mana,?” ia kelihatan bingung. “ Ah kamu telah membuatku jadi seorang pelupa.”

“ Seperti yang kamu katakan. Aku akan jadi mahasiswa yang diperhitungkan andai saja kuliah pada sebuah perguruan tinggi.” Kataku mengeja kalimat yang baru saja ia ucapkan.

“ Lalu dimana letak benarnya ?” kembali ia bertanya. Aku diam sesaat.

“ Aku dulu pernah kuliah dan teman-temanku cukup memperhitungkan kehadiranku diantara mereka, seperti yang kamu katakana. Mungkin Karena sifatku yang tidak mau diam pada setiap persoalan.

“ Lalu bagaimana sikap mereka ?”

“ Yah, beberapa kali aku mereka calonkan jadi ketua. Tapi aku tolak tawaran itu.” Kataku mulai mengurai pengalaman jadi seorang mahasiswa. Mahasiswa yang identik dengan perjuangan. Perjuangan untuk masa depan sendiri serta masa depan bangsa dan negara agar tetap berada dalam jalur kebenaran, keadilan dan kesejahteraan, meski kadang harus jadi korban.

“ Aku menolak tawaran mereka, karena mengingat diriku yang hanya bisa bicara, namun kenyataannya keterbatasan juga yang ada. Aku tak dapat berbuat banyak selain bicara.”

“ Tapi bukankah dengan kemampuan yang kamu miliki, keterbatasan dan persoalan yang ada dapat kamu atasi ?”

“ Tidak setiap persoalan dapat selesai hanya dengan bicara, fikiran dan ide-ide. Ada kalanya sebuah persolan harus dihadapi dengan tindakan nyata. Dan itu aku tak puya. Aku dilahirkan sebagai oarang yang melarat. Smentara untuk jadi seorang pemimpin, haruslah lebih maju beberapa langkah dari sebuah sumber masalah untuk bisa mengatasi berbagai persoalan yang ditimbulkan.”

Aku diam. Iapun tak lagi banyak bersuara.

“ Aku tak mungkin mengecewakan dengan menyia-nyiakan kepercayaan yang mereka berikan hanya karena diriku yang serba kekurangan. Tapi, bukan berarti perjuangan harus berhenti hanya karena alasan keterbatasan. Aku percaya Tuhan selalu punya banyak cara memberi jalan untuk para pejuang. Tapi aku sadar bukan disitu jalan perjuanganku. Oleh sebab itu kuserahkan kepada mereka. Aku yakin diantara mereka banyak yang sanggup dan punya potensi untuk jadi pemimpin-pemimpin yang memenuhi tuntutan dan kepercayaan yang dibrikan kepadnya.”

“ Lalu bagaimana ceritanya sampai kamu berhenti,” Tanya Ana penuh harap sekan tak pernah bosan dengan semua cerita-cerita yang pernah didengarnya dariku.

“ Tepatnya ketika aksi-aksi tuntutan reformasi tengah begolak. Saat itulah persimpangan jalan hidup menuntunku kearah kehidupanku yang sekarang.” Jawabku sambil mencoba mengingat dan mengurai babakan dari episode kehidupan masa lalu yang skenarionya kadang membawa pada sebuah akhir cerita yang sulit ditebak.

Masa lalu yang penuh semangat perjuangan hendak menegakkan kebenaran di persada bumi Indonesia tercinta. Negara yang lama berada dalam genggaman para penguasa yang tak menghendaki suara-suara sumbang. Lalu dianggap tidak sejalan dengan tujuan pemeritah, hingga harus disingkirkan dengan segala cara. Dan salah satu cara itu telah membawaku pada suatu kejadian yang menjadi awal perjalanan hidup yang tengah aku jalani sekarang.

***
Saat itu hujan baru saja redah. Aku setelah mampir sebentar ke kampus, bermaksud bergegas pulang ke pondokan tempatku tinggal selama ini. Hari itu sudah hampir gelap. Suasana dalam kampus sudah mulai sepi. Kebanyakan teman-teman mahsiswa setelah seharian melakukan aksi dijalan, pulang kerumah dengan menumpang angkutan umum. Untunglah ruang yang biasa kami tempati bekumpul sore itu belum terkunci. Tas dan kelengkapan kuliah yang hari itu tidak sengaja tertinggal, masih pada tempatnya. Setelah membereskan segala sesuatunya, aku melangkah meninggalkan gerbang kampus dengan bergegas.

“ Diam ditempat !” sebuah suara dari arah belakang diikuti derap langkah sepatu laras.

“ Polisi, ada apa sore-sore begini berkeliaran. Dan ada apa pula mereka menghentikan langkahku.” Pikirku dalam hati.

Aku tidak tahu persis apa yang sesungguhnya terjadi. Aku hanya bisa tepaku ditempat. Sebelum sempat berpikir lebih lama mereka telah mengobrak-abrik isi tas yang semula berada diatas kepala sebagai pelindung dari gerimis yang tersisa.

Waktu begitu cepat berlalu. Dengan barang bukti berupa bungkusan plastik berisi serbuk putih yang tak tahu dari mana, aku dinyatakan sebagai pemakai obat-oabat terlarang dan harus menjalani penahanan untuk memudahkan pemeriksaan lebih lanjut.

Sesungguhnya banyak yang tidak yakin dengan kasus hukum yang dituduhkan kepadaku. Mereka terutama teman-teman yang selama ini mengenal kehidupanku. Namun setelah menginap selama dua hari dalam sel tahanan, keesokan harinya aku mendengar kepastian dari pihak penyidik bahwa sampel urin yang diperiksa dilaboratorium, dinyatakan positif. Tidak ada yang dapat menyangkal.

Usai menjalani masa tahanan di lembaga pemasyarakatan aku bermaksud kembali kekampus dan semua teman-temanku mengharapkan itu. Namun apa yang kemudian tejadi diluar harapan. Pihak universitas mensyaratkan aku menjalani rehabilitasi. Dikhawatikan kehadiranku akan membawa pengaruh dalam lingkungan mahasiswa. Sebuah keputusan yang sulit aku terima, karena aku merasa tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan. Maka dengan kesadran penuh dan dari hasil pertimbangan yang matang aku memutuskan tidak melanjutkan studi yang selama ini kutekuni.

“ Kau menyesal dengan keadaanmu ?” ia bertanya dengan suara lirih seolah turut meraskan kepedihan yang pernah aku alami.

“ Aku berusaha untuk tidak pernah menyesali segala musibah yang menimpa. Toh menyesalpun keadaan tidak akan lebih baik. Aku yakin inilah jalan hidup yang harus aku lalui. Mungkin Tuhan hendak menunjukkan sesuatu yang lebih baik. Dengan begini aku lebih banyak belajar untuk memahami makna hidup. Tidakkah engkau lihat, begitu banyak generasi muda yang hidup bergelimang harta, karena oarang tua kaya raya, jadi pejabat Negara. Segala keinginan mereka akan pasilitas terpenuhi. Namun, mereka akhirnya salah jalan. Jatuh dalam jurang kenistaan. Teperangkap dalam dunia khayalan. Menjadi generasi muda yang kehilangan masa depan.” Suasana hening. Aku diam sesaat. Begitu juga dirinya. Ia sepertinya meresapi apa yang aku katakan.

“ Mungkin dibalik segala kekurangan yang aku alami ada hikma yang jauh lebih berharga dari segala sesuatu yang belum tentu aku peroleh. Bukankah dari hidup yang penuh penderitaan telah banyak melahirkan manusia-manusia yang berjasa disegala medan kehidupan ?

Dan yang terpenting dan paling berharga adalah kutemukannya seorang sahabat yang sanggup memahami diriku dan mau mendengar segala keluhanku. Dengannya aku merasa telah memiliki segalanya. Dan aku yakin inilah anugerah yang terindah untuk orang yang malang seperti diriku. Dan anugerah itu telah hadir dan duduk disampingku. Semoga untuk selamanya.”

Dia menepuk bahuku sambil berdiri dan mengajakku melangkah pergi. Pergi meninggalkan masa silam. Masa lalu yang hadir tidak untuk disesali. Tapi dijadikan pelajaran dalam menyongsong masa depan. Masa yang penuh harapan.

“ Engkau seperti tidak pernah serius dalam berbicara, tapi isinya sarat akan makna.” Katanya seraya melangkah seiring matahari senja yang kian condong kearah puncak perbukitan lalu hilang meninggalkan sembuarat merah yang menambah indahnya alam desa.

Sekelompok burung pipit terbang melesat memptong jalan sempit diantara semak belukar yang kami lalui. Pulang kesarang setelah seharian membuat lelah Pak Tani yang setia menunggui padinya yang tersisa.

“ Kadang sesuatu yang berharga enggan orang untuk menerima karena dikemas dalam wadah yang tidak mengundang selaera. Demikian pula hanya akan petuah. Meninggalkan kesan bagi oarang yang mendengar bila cermat menggunakan bahasa.” Kataku setelah kami berada diatas sepeda motor. Melaju melewati jalan beraspal di kaki gunung yang sepi, memasuki kawasan perkampungan yang damai.
Sayup-sayup dari kejauhan tedengar suara azan berkumandang menggemah diantara bukit dan lembah, pertanda hari akan berganti dan malam akan segera tiba. Hari yang akan terus berganti sepanjang masa, tanpa tahu waktu yang terlewati, yang tak akan mungkin pernah kembali, dan tak akan pernah sanggup untuk diajak kembali meski dengan alat yang lebih cepat dari yang pernah diketahui.

Kami singgah sebentar untuk menunaikan ibadah sholat magrib. Dalam hati aku mengucap syukur karena masih diberi waktu untuk berbakti meski hanya lewat tulisan. Tapi aku yakin Tuhan tentu punya maksud memberi perintah pertama kali kepada Nabinya dan tentu juga kepada ummatnya. Dengan perintah baca Tuhan telah memberi isyarat bahwa segala yang ada ini tak tak cukup hanya untuk dilihat, tapi diamati dan diresapi kemudian direnungkan apa arti dibalik penciptaan ini, lalu memantapkan dalam hati bahwa semua yang ada tak mungkin sia-sia.

Aku berharap lewat tulisan keterbatasan yang aku miliki tak akan jadi penghalang untuk meberikan sumbangan pemikiran dan ide-ide, meskipun aku sendiri belum tentu dapat menjalani. Namun tidak menutup kemungkinan ada orang yang dapat memetik hikmah dibaliknya.
Kini malam telah menutup siang. Dan terang telah berganti gelap, mengantarkan setiap insan menuju alam mimpi. Meninggalkan kepenatan dalam sehari menyongsong hari esok penuh harapan.

***
“ Dari Bang Ari aku dengar engkau punya gelar sarjana tapi tidak pernah memakainya, itu benar ? “ Tanya sahabatku Ana panggilan akrabnya setelah kami berada dirumahnya. Rumah sederhana tempat Sofiana, nama lengkapnya, selama ini menekuni profesinya sebagai mahasiswa sekaligus sebagai penulis muda berbakat.

“ Ha…Ha… ini yang belum aku aku ceritakan kepadamu,” jawabku sambil menarik sebuah majalah dari atas meja lalu menghempaskan diri kekursi.

“ Setelah berhenti menjadi seorang mahasiswa, aku berharap untuk segera dapat bekerja dan memperoleh penghasilan. Tapi jaman sekarang memiliki ijazah SMA tanpa memiliki keterampilan perusahaan mana yang mau menerima. Apalagi berharap jadi pegawai pemerintah. Tanpa ada jaringan didalam, susah untuk masuk. Banyak saingan.” Aku membolak-balik halaman majalah. Tak ada yang menarik. Semua melulu tentang wanita dan kosmetik. Sofiana diam saja. Ia seperti memberiku kesempatan untuk terus bicara. Ia hanya sesekali mengangguk membenarkan pendapatku.

“ Aku lalu berfikir untuk kembali kuliah. Sekedar untuk memperoleh ijazah dan segerah dapat bekerja. Itu yang aku lakukan walau sebenarnya aku tidak banyak berharap. Namun pekerjaan yang sesuai tak kunjung aku dapatkan. Mungkin tidak cukup ilmunya. Aku sadar akan al itu. Menyerahkan persoalan kepada orang yang bukan ahlinya hanya akan menimbulkan persoalan baru. Ya kan ? aku percaya hal itu. Oleh sebab itu aku tak pernah merasa putus asa. Dan aku percaya pada ketentuan Tuhan. Aku lalu mengerjakan apa saja. Bagiku yang penting halal dan waktu tidak terbuang percuma.”

Lama kami terdiam. Sesekali dari jauh terdengar suara kendaraan melesat memecah kesunyian. Untunglah rumah Sofiana jauh dari jalan raya sehingga suara bising kendaraan tidak terlalu mengganggu.

“ Syukurlah Bang Ari mau menampung tulisan-tulisan yang pernah kubuat. Ia wartawan senior dan penulis yang bijaksana. Katanya, aku berpotensi jadi seorang penulis. Dan kehadiranku disini yang telah mempertemukan kita atas permintaannya juga. Semoga Bang Ari tidak keliru memberiku kepercayaan ini. Katanya ini adalah tantangan pertama yang harus aku lalui, membuat tulisan tentang seorang wanita muda yang kreatif.”

Sofiana terdiam. Tak sepatah katapun terucap dari bibirnya. Ia seperti menganalisa setiap kata demi kata yang aku ucapkan. Yang mengalir begitu saja seakan tak terbendung. Terus mengalir melukiskan gambaran hati yang telah menemukan tempatnya untuk menumpahkan segala yang lama terpendam. Dan sedikitpun aku tak bermaksud hendak membendungnya. Entah apa sebabnya. Aku hanya merasa inilah saatnya untuk menceritakan segalanya. Dan aku yakin bukan pada orang yang salah. Karena Sofiana sahabatku yang baru itu ternyata adalah pendengar yang setia.

“ Aku berharap persahabatan kita tidak sebatas hubungan kerja” lanjutku kemudian. Sofiana tetap diam. Dibukanya lembaran-lembaran diatas meja tulisnya.

“ Aku yakin Bang Ari tidak keliru mengutusku kemari. Menunjukkan jalan untuk menemukan seorang teman sekaligus seoarang pembimbing yang akan membagi pengalaman dan pengetahuan. Membagi rasa dan cerita untuk menemukan jalan hidup, sekaligus dapat memenuhi kepercayaan yang ia berikan.”

“Kau terlalu berlebihan memuji. Akulah yang seharusnya banyak belajar darimu. Semoga pertemuan dan pershabatan yang tengah kita jalani ini akan membawa makna yang lebih berarti dalam menempuh hari-hari depan. Aku juga berharap begitu. Dan tentunya juga kau. Semoga ini bukan skedar cerita.”

Malam terus merayap dalam gelapnya. Memendamkan segala rahasia kehidupan yang penuh misteri. Tak terasa waktu terus berjalan, dan telah banyak yang telah kami bicarakan. Sesekali pebicaraan diselingi gelak tawa. Ditemani Bu Inah dan secangkir kopi yang dihidangkannya semakin menambah hangatnya suasana.

Bu Inah adalah orang tua yang selama ini merawat dan membesarkan Sofiana sejak dari kecil hingga sekarang. Sejak Pak Barkah, suaminya, ayah Sofiana yang tak sempat dilihatnya kecuali dalam album foto yang tersimpan rapi dan yang dipajang didinding dengan seragam militernya, gugur dalam melaksanakan tugas di Timor timur. Gugur demi menjaga Negara kesatuan Republik Indonesia. Negeri sejuta pahlawan yang akan tumbuh disetiap medan kehidupan. Pahlawan yang selalu dinantikan kehadirannya sejak manusia pertama hingga akhir jaman. Sejak Iblis menyatakan perang kepada Adam sampai datangnya masa perhitungan.

Aralle, 13 Desember 2005

Kamis, 10 Februari 2011

Terasing

Hari masih pagi. Pohon jambu di halaman rumah ramai oleh kicauan burung yang berlompatan dari ranting-keranting. Titik-titik embun yang menempel di daun berjatuhan membasahi deretan pot dan bunga-bunga yang seakan tersenyum menyambut pagi. Di timur, fajar shadiq mulai memendar. Hamparan awan tipis membias cahaya merah keemasan. Dua ekor ayam berkejaran di halaman. Melompat pagar, lalu hilang di ujung jalan.

Aku dan Ahmad hari itu keluar meninggalkan rumah. Ahmad  adalah kakakku dengan segudang kesibukan pekerjaan. Berlebihan rasanya bila aku katakan tak sesaatpun waktunya dibiarkan berlalu untuk berdiam diri tanpa kegiatan bermanfaat. Tapi itulah yang aku lihat. Ia sepertinya tak hendak melewatkan seharipun tanpa sesuatu yang beraarti bagi kehidupan. Paling tidak untuk kehidupan diri dan keluarganya.

Pagi itu, meski sebenarnya sudah cukup terang oleh semburat merah di ufuk timur dengan cahayanya yang menyusup diantara celah-celah bangunan serta ranting dan dedaunan yang basah oleh kabut malam yang meninggalkan jejak berupa titik-titik embun, namun lampu-lampu didepan rumah penduduk dan dijalan-jalan yang kami lalui masih setia menerangi walau sebenarnya sudah cukup terang tanpa kehadirannya.

Jalan yang kami lalui tampak sepi. Hanya ada satu - dua orang yang berpapasan dengan kami. Mereka baru saja pulang dari berjalan-jalan pagi usai melaksanakan shalat subuh. Ruma-rumah yang berjajar disepanjang kiri-kanan jalan tampak kokoh berpagar tembok. Tak satupun pintu pagar rumah yang terbuka kecuali sebagian toko yang mulai buka dan beberapa rumah diantaranya yang memamang tidak berpagar dan sebagian dindingnya  terbuka disana-sini.

Sepi. Sangat berbeda suasananya empat hari yang lalu ketika aku untuk pertama kalinya menginjakkan kaki dikota kecil ini. Entahlah. Apakah karena empat hari yang lalu itu aku melalui jalan ini sehari sebelum hari raya Idul Fitri, ataukah karena hari ini kami meninggalkan rumah masih terlalu pagi.

Hari itu menjelang sore. Jalan yang aku lalui, dijalan yang sama kini kami susuri, selain kendaraan yang tentunya manusia juga penumpang dan pengemudinya, kulihat begitu banyak manusia yang hilir mudik. Dari pejalan kaki sampai sedan pribadi semua kulihat disini. Dalam hati aku berkata, kota kecil tempat Ahmad tinggal selama ini ternyata sudah cukup ramai juga. Selain itu penduduknya juga beragam. Ciri sebuah kota yang kutahu selama ini.

Dijalan yang sama disore hari itu. H -4 lebaran 2007, sempat juga kulihat beberapa orang pengayuh becak yang memotong arah jalan yang akan kami lalui. Sepertinya waktu itu kami tengah berada didepan sebuah pasar. Didepan para tukang becak itu, ditempat yang biasa untuk penumpang duduk, kulihat tampak sarat dengan muatan. Lama kami menunggu iring-iringan itu berlalu satu-persatu. Dari belakang aku dengar suara klakson mobil dan kendaraan lain bersahutan. Mungkin sopir-sopir itu sudah tidak sabar lagi untuk segera sampai. Sopir mobil yang aku tumpangi juga tidak mau ketinggalan. Ia kelihatan sangat gelisah. Sambil melepas sebuah kopiah yang sejak semula bertenggaer diatas kepalanya, Ia mengumpat-umpat dan mengeluarkan kata-kata yang sesungguhnya tidak pantas diucapkan.

Sepanjang jalan aku memang selalu memperhtikan sopir muda itu. Aku terkesan dengan penampilannya. Kulihat Ia seorang muslim. Dalam pandanganku saat pertama naik mobil yang Ia kemudikan, muncul anggapan Ia seorang  muslim yang taat. Tapi mengapa Ia bisa berkata-kata seperti itu. Kesan dan anggapan itu seketika berlalu. Berganti sesal dan tanya.  Apakah Ia tidak sedang berpuasa ? Ataukah baju gamis yang dikenakannya dan kopiah yang tadi dibantingnya diatas stir mobil itu hanya sebuah hiasan ? Ataukah baju gamis yang dipakainya itu tidak lebih dari sehelai kaos oblong yang dikenakan seorang lelaki yang tadi kami lihat disisi jalan ?

Lelaki di sisi jalan tidak jauah sebelum kami berada di tengah kerumunan yang aku duga pasar itu sempat mengundang gelak tawa para penumpang. Lelaki itu berumur sekira tiga puluhan tahun. Ia memakai baju kaos oblong juga, tapi maaf, bagian bawahnya terbuka. Tanpa ada yang menjelaskan, semua penumpang termasuk aku, maklum kalau lelaki itu mengalami sesuatu yang tidak diinginkan siapapun. Entah siapa Ia. Tapi yang kulihat di tempat itu tidak seorangpun yang tertarik memperhatikan kecuali kami para penumpang yang kebetulan berlalu.

                                                          *** 
“Puasa itu tidak sekedar menahan lapar. Tapi, seorang yang sedang menjalankan ibadah puasa harus menjaga dan menahan semua anggota tubuhnya untuk tidak melakukan sesuatu  yang dapat mengurangi nilai puasanya.” Begitu yang sering aku dengar dari guru agama dan para da’i yang sering  berceramah dimesjid-mesjid.

Mengingat itu. Aku berusaha menjaga telinga untuk tidak sembarang menerima suara. Kata-kata pedas yang diucapkan pak sopir tidak lagi menjadi perhatianku. Lagi puasa, pikirku. Pandanganku tertuju pada sesuatu yang bergerak-gerak menyembul diantara tumpukan barang yang dimuat si tukang becak. Lama aku memperhatikannya. Sesuatu Itu seperti kepala manusia dibalut jilbab lusuh. Mulutnya tampak komat-kamit melapalkan sesuatu. Seorang perempuan tua. Aku baru jelas melihatnya ketika kedua matanya yang dipejamkan terbuka diikuti suara batuk yang nyaris tak terdengar disembur knalpot sebuah truk besar yang sedang memuntahkan asap hitam pekat ingin hendak segera berlalu.

Yah, begitulah mungkin gambaran sebuah kota kecil yang seadang menggeliat dengan segala bentuk perkembangannya.  Ahmad kakakku telah dua tahun tinggal dikota ini. Menurut cerita yang aku dengar dari ibu, daerah ini adalah tanah tempat tinggal leluhurnya. Masa kecil, Ibu habiskan di daerah ini. Tapi sejak menikah dan ikut dengan ayah, Ia tidak pernah lagi kembali ketanah kelahirannya. Ibunya, setahun setelah pernikahannya dipanggil menyusul ayahnya yang telah lebih dulu menghadap yang kuasa.

Kata Ibu, dahulu daerah ini  tak seramai yang kulihat sekarang. Saat itu hanya ada beberapa rumah yang merupakan penduduk asli. Tanah-tanah yang kini dipenuhi gedung-gedung itu adalah lahan persawahan tempatnya bermain bersama teman-temannya disaat biji padi mengair susu. Saat itu burung pipit seperti menemukan hidangan pesta. Tugas ibu, menghalau burung pipit yang datang bergerombol merampas biji-biji padi. Tapi bermain membuat ia lupa pesan ibunya dirumah. Kata ibunya, padi-padi itu harus dijaga, kalau tidak pipit-pipit yang jahat akan mencuri dan membawanya pergi. Tentu saja waktu itu ibu yang belum genap berumur sepuluh tahun tidak mau kehilangan padinya yang sebentar lagi menguning. Sehabis panen bapaknya selalu membelikan kain dikota sebagai hadiah atas keberhasilannya mengalahkan pipit yang kadang tidak dilihatnya ternyata telah terbang pergi karena kenyang.

Tidak ada mobil ketika itu, cerita ibu. Apalagi bandara dan pesawat terbang. Untuk hubungan keluar cukup hanya menggunakan perahu layar dengan laut atau kuda dengan jalur darat meski harus memakan waktu berhari-hari lamanya. Tapi perlahan-lahan, sejak pemerintah membuka jalan yang bisa dilalui kendaraan bermotor, dan menimbun sawah-sawah untuk mendirikan pabrik, keadaan mulai berubah. Gedung-gedung mulai berdiri. Toko, dan rumah-rumah. Pasar, gedung-gedung sekolah. Warung dan jalan satu-satunya yang membelah perkampungan kini mulai bercabang-cabang.

Sawah tempat ibu biasa bermain kini tidak lagi ditempatnya. Semua itu telah menjadi bagian dari masa lalunya. Tapi ibu tidak pernah menyesali apa yang hilang dari hadapanya. Aku pun sering menasehati ketika bercerita tentang itu. Tapi katnya, ia hanya mengenang masa-masa itu. Bagi ibu, masa itu sungguh sangat indah. Damai dan menyenangkan. Tidak ada kerusuhan dan amuk massa yang sekarang sering dilihatnya di televisi. Kadang aku turut larut dalan cerita-certa itu. Tapi aku mencoba memberinya pemahaman, bahwa apa yang dilihatnya sekarang adalah bentuk kemajuan. Pemerintah melakukan itu adalah untuk peningkatan kesejahteraan rakyat dan untuk pemerataan pembangunan.

Hanya satu yang tak biasa kumengerti, ibu tak lagi menemukan sahabat-sahabatnya. Bahkan kerabat dekatnya pun tak lagi ia jumpai disini. Mereka semua entah pergi kemana. Rumah-rumah warga tak jauh dari sawah yang kini hilang itupun tak lagi dilihatnya. Disana kini berdiri gadung-gedung tinggi. Disawah tempatnya memandang padi menguning disore hari telah dibangun lapangan terbang.

Pernah suatu ketika ibu mencoba pergi melihat tempat turunnya pesawat terbang itu. Orang-orang yang ditemuinya disana tak satupun yang dikenalnya. Bahkan bahasa yang digunakan ibu sebagai orang yang pernah tinggal ditempat ini, tidak dimengerti orang-orang yang siang itu dijumpainya. Kata Ibu, hari itu seorang berpakaian seragam menyuruh ia pulang karena tidak jelas tujuan Ibu apa.

Lalu mereka semua pergi kemana, bukankah mereka semua, kerabat dan penduduk itu yang seharusnya mengisi gedung-gedung itu ? Bukankah seharusnya mereka kini telah hidup sejahtera seperti tujuan pemarintah untuk pemerataan ?

Kerabat ibu satu-satunya yang dapat kami temui, jauh berada dipinggir laut. Diatas sebuah rumah yang hampir rubuh kami menjumpainya. Sebagai tanda kegembiraan kami menginap satu malam disitu. Sepanjang malam aku sulit memejamkan mata. Selain pikiran-pikiran yang terus memenuhi kepala, suara ombak sepanjang malam yang menderu berkejaran didepan rumah, membuatku tak dapat terlelap. Sampai tiba waktu pagi dan suara anak-anak yang bermain berkejaran dihalaman rumah menggantikan deburan ombak yang menggangguku sepanjang malam, aku masih larut dalam pikiran-pikiran itu.

Aku mencoba bangkit dari tempat tidur. Dengan berat aku berusaha menyaksikan keceriaan anak-anak itu. Ketika pagi beranjak siang, kulihat anak-anak itu masih asyik bermain dipasir yang mulai menerbangkan debu karena sengatan matahari dan hembusan angin laut. Tak satupun diantara anak-anak itu yang kulihat hendak bergegas untuk berangkat kesekolah. Padhal aku tau hari itu bukan hari libur dan seharusnya merka berada disekolah sekarang.

                                                         ***
“Kita turun disini,” berkata Ahmad membangunkan aku dari lamunan sepanjang jalan. “Kau tunggu sebentar, aku akan menitip motor ini kepada pemilik rumah yang didepan itu.”

Sebuah rumah panggung yang besar tanpak lengang. Hanya seorang kakek tua yang baru saja memasuki pintu pagar ketika kami tiba. Ia seperti baru tiba dari mesjid. Disebelah kanan pintu pagar itu sebuah bangunan kecil menyerupai sebuah pos ronda. Diatas bangunan yang berlantai papan itu tampak bebrapa orang pemuda sedang tidur pulas.

Kulihat kakek itu berbincang dengan Ahmad beberapa saat. Mungkin mereka sudah saling kenal. Tiadak lama kemudian Ahmad kembali dan menunjuk sebuah jalan yang akan kami lalui. Jalan itu sebenarnya cukup lebar untuk sbuah sepeda motor. Tapi kurasa Ahmad punya alasan tersendiri mengapa motor tidak dibawa dan harus dititip. Aku juga tidak mau banyak tanya.

Beberapa saat kemudian kami memasuki areal persawahan yang luas.Sebuah keindahan desa yang tersisa, fikirku. Sejauh mata memandang yang tampak adalah petakan-petakan sawah dipagari deretan bukit dikejauhan. Bukit-bukit itu kelihatan serupa raksaa hitam berselimut putih kabut tipis. Sapanjang pematang sawah yang kami lalui sesekali kulihat pondok-pondok kecil berdiri. Karena asyiknya memandang sana-sini, be-berapa kali aku terperosok dan hampir mencium tanah.

Tujuan kami ketempat ini adalah untuk melihat-lihat sawah yang sebulan lalu dibeli Ahmad dari seorang kenalan. Ahmad sebetulnya tidak terlalu berminat. Selain terlalu jauh, ia juga tidak banyak waktu untuk mengurusnya. Tapi karena desakan dari pemiliknya, terpaksalah Ahmad jadi juga membelinya.

“Dari pada jatuh ketangan orang lain, kan lebih baik kamu yang beli, Mad,” kata pemilik sawah itu. “Kalau kamu tidak punya banyak waktu, biar aku juga yang nanti mengurusnya. Yang penting sawah ini jangan sampai terjual sama orang lain. Ini satu-satunya peninggalan orang tuaku yang tersisa. Aku sesungguhnya tidak tega menjualnya. Tapi, yah bagaimana lagi, anakku yang laki-laki mendesak ingin kawin. Ini kan kewajiban kita sebagai orang tua. Anggaplah kali ini kamu menolongku.” Lanjut si pemilik sawah itu memelas.

Dan kini sawah itulah yang hendak kami tuju sekarang. Aku terus melangkah. Sesekali aku menengok kearah pondok kecil yang kebetulan dekat dengan pematang sawah yang kami lalui. Ingin rasanya aku segera berada diatasnya. Berayun kaki sambil memandang kejauhan. Tapi, Ahmad menunjuk ketengah. Dibawah sebatang pohon kelapa, berdiri sebuah pondok. Pohon kelapa itu kerdil, tak satupun buahnya yang tampak.

“Itu sawahku, dan pondok kecil yang berdiri dibawah pohon kelapa itu aku yang bangun seminggu yang lalu. Kau nanti bisa beristirahat disana.” Kata Ahmad seakan memahami kalau aku sejak tadi ingin segera sampai dan duduk melapas lelah.

“Kelapanya kenapa tidak berbuah ?” tanyaku setelah mengetahui kelapa itu miliknya. “Kan lumayan untuk mengobat  haus.”

“Mungkin karena kurang terurus. Pemilik sawah ini jarang datang kemari. Dia lebih memilih jadi buruh harian daripada mengurus sawahnya sendiri. “Ahmad menjelaskan.

Beberapa meter sebelum tiba dibawah pohon kelapa merana itu, jantung yang selama ini memompa darah keseluruh tubuhku seakan berhenti berdetak. Andai selama ini aku tidak sedikit terlatih dengan berbagai peristiwa yang hampir dapat ditemui dihampir setiap tempat dan waktu, mungkin perguruan tinggi tempatku kuliah sekarang ini tidak akan pernah mencatat nama seorang mahasiswa yang kadang sering dianggap aneh oleh teman-teman dekatnya. Dan tentu cerita yang kutulis ini pun sudah terkubur bersama kepala dan hati yang selama ini dipenuhi oleh berbagai pikiran dan perasaan yang kadang kata-kata tidak sanggup untuk mengungkapnya.

Apakah karena pematang yang ditumbuhi rerumputan licin dan basah oleh embun pagi yang sebentar lagi lenyap disengat mentari ? Bukan. Bukan itu sebabnya. Kalau hanya sebab itu jantung tidak mungkin secepat ini berdetak.

Aku yang terbiasa dengan renungan-renungan dan kadang juga lamunan dan khayalan, sehingga sering lupa dan tidak sadar dengan apa, sedang apa, dan berada dimana, tiba-tiba telah dihadang oleh seorang perempuan tua berpakaian compang- camping. Mak Lampir, yah mungkin nama itu cukup menggambarkan tubuh yang kini berdiri dihadapanku. Tapi hanya sesaat. Sebelum aku dapat menguasi diri, dia segera berlalu dari hadapanku dengan tawa yang memperlihatkan giginya yang tinggal beberapa buah karena sebagian telah hilang dari tempatnya.

Setelah aku benar-benar tenang , seorang lelaki yang mungkin seumur dengan Ahmad datang menghampiri kami. Tangan dan kakinya dipenuhi lumpur. Aku memperhatikannya sesaat kemudian berlalu dari tempat itu membiarkan ia dan Ahmad berbicara. Dari percakapan yang sempat aku dengar, lelaki itu sepertinya baru kembali dari memperbaiki pematang sawah sebelah. Tapi karena ibunya kambuh panyakit gilanya dan pergi meninggalkan rumah, ia terpaksa menghentikan pekerjaannya dan membujuk ibunya  pulang kerumah. 

“Lelaki yang tadi bicara denganmu itu, siapa kak?” aku bertanya pada Ahmad setelah berada didepan pondok tempatku duduk.
“Dia orang sini juga,” kata Ahmad sambil mengambil posisi duduk diseblahku. Tatapan matanya lurus kedepan. Sepertinya dia tengah memikirkan sesuatu.

“Dia itu penduduk asli disini. Sawah-sawah yang kau lihat disini dulunya adalah milik orang tua dan kerabat-kerabatnya yang lain. Tapi karena desakan berbagai keperluan, yah terpaksa berpindah ketangan orang lain. Dia sendiri skarang tidak memiliki apa-apa lagi. Untuk menyambung hidup dia bekerja sebagai buruh tani disawah yang pernah jadi miliknya. Kau lihat rumah yang dekat bukit diantara pohon-pohon bambu disana ?” tanya Ahmad sambil menunjuk kesebuah bukit dikejauhan.

Dilereng bukit itu, diantara pohon-pohon bambu, tampak  atap sebuah rumah dari daun rumbia menyembul disela-selanya.

“Itu rumahnya,” Lanjut Ahmad.

“Dan perempuan tua itu ? Hampir saja aku dibuat mati mendadak.” Aku bertanya, hendak memperjelas siapa perempuan tua itu.

“Oh, itu ibunya. Sudah lima tahun mengidap penyakit jiwa. Mungkin tidak mampu menerima kenyataan hidup. Keluarganya sebetulnya berjaya dimasa lalu. Tapi kini mereka sendiri harus teasing dan tersingkir dari kehidupan daerahnya yang telah maju. Menjadi penonton dilapangan sendiri.”

“Penonton ?” aku berkata seperti bertanya pada diri sendiri.

“Ah, sudahlah. Cerita tidak ada habisnya. Sementara waktu terus berlalu, lihat matahari sudah semakin tinggi, sebaiknya kita bekerja sekarang. Tolong bantu aku memasang dinding-dinding ini, setelah itu kita segera pulang, masih banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan dirumah.”

“Yah, sebaiknya memang begitu. Waktu jangan dibiarkan berlalu begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat.” Kataku dalam hati sambil mulai asyik membantu Ahmad memberesakan pekerjaannya. (*)

Kalukku-Mamuju, Syawal 1427 Hijriah.




Sahabat Sejati

Bingung. Barang kali kata ini kurang tepat. Tetapi mungkin itu ungkapan yang sedikit bisa menggambarkan rasa yang mennyelimuti hati saat mata terpaku pada layar komputer  yang dengannya kukenal dirimu dan sedikit tentang dunia.

Aku bingung akan mulai dari mana saat hendak merangkai kata untuk mulai menyusun kalimat - demi kalimat. Kalimat yang lalu akan jadi paragraph  yang dengan itu aku berharap akan mampu lukiskan kepingan kenangan yang telah berlalu dari lakon panggung  kehidupan dunia maya ini. Dunia sandiwara. Dunia dimana dalam sebuah episode dari banyak kisahnya, kita berada diantara para pemerannya.

Akan kumulai dari mana ? Sementara kepingan itu bersiliweran dan campur – aduk dengan potongan kenangan dari hari – hari yang pernah kulalui dari kehidupanku yang sesungguhnya. Sehingga yang melintas dalam ingatan adalah bayangan serupa iklan sambal di layar TV yang lalu berganti iklan sampo dengan rambut panjang hitam seorang perempuan. Disusul iklan cara perawatan payudara dengan produk tertentu agar terlihat lebih seksi kemudian berganti produk pembersih khusus wanita yang dengan memakai itu, katanya, dijamin bakal tambah disayang suami.

Akan kumulai dari mana ? sementara permimntaan darimu untuk menuliskan kisah tentang kita yang kini kau beri nama, sahabat sejati, yang kisahnya, aku sendiri tak pernah tahu entah akan berakhir bagaimana, telah kuanggap semcam kewajiban untuk melaksanakan dan menjalani kisahnya.

Wajib mencatatkan dan menjalani kisahnya, meski kisahnya akan serupa perjalanan kisah hidup Mbah Maridjan yang lakon hidupnya berakhir dengan belaian hangat wedhus gembel dari puncak Merapi. Gunung yang selama ini ia jaga dengan setia. Namun kini Merapi mulai rewel lagi dan sering batuk-batuk dan meludah sembarangan. Lalu, tubuh kaku pun bergelipangan termasuk tubuh tua Mbah Maridjan.

                                             ***
Aku bertemu dan mengenalmu dua bulan lalu dan kini menginjak bulan ketiga. Berawal dari facebook. Malam itu, sebuah foto yang sesaat membuatku terpaku, tampil dengan wajah yang begitu akrab dan seakan telah mengenalnya namun entah dimana.

Detik itu juga kukirimkan sebuah permintaan tuk mengenal lebih dekat dan berharap apat berbagi meski hanya berupa untaian kata karena kutahu baru sekali ini melihatmu walau parasnya begitu akrab melakat.

Di akun facebook itu tertulis namamu. Engkau tinggal disebuah kota yang saat ini mimpipun tak bisa menjelaskan kepadaku seperti apa suasana dan keadaannya. Tapi dilayar ini sebuah foto begitu jelas menggambarkan suasana senja di sebuah pantai yang katamu menjadi tempat paling sering kau kunjungi saat hendak melepas lelah dari banyak kesibukan yang juga katamu menjadi ciri seorang wanita karier. Dan untuk menjelaskan itu engkau seratkan pula lebih banyak foto yang menceritakan padatnya jalan raya kotamu. Juga sebuah suasana sebuah kafe yang diatas mejanya dipenuhi botol minuman. Di stage kafe itu, alat musik dan beberapa orang pemusik menerbangkan beberapa orang lelaki dan perempuan dengan pakaian mini melambung kealam khayal dengan goyangan yang nampak erotis.

Tapi aku suka foto suasana senja di pantai apalagi disana aku dapat menatap foto wajahmu yang tampak akrab. Aku tak tahu akan seperti apa gerangan getaran hati yang terasa, andai foto wajahmu kutatap dengan latar deretan pematang sawah dengan padinya yang menguning. Atau latar sebuah bukit dengan bunga ilalang yang memutih di pagari hijau pepohonan di kejauhan. Sementara angin gunung semilir membelai rambut hitammu yang panjang dan sesekali menutupi wajahmu yang bagai bulan dikala purnama.

Tak sadar, aku telah membawamu berkeliling dalam dunia khayalku. Menyusur pantai. Bermain diantara sawah dengan padi yang menguning. Menyusur jalan setapak berkelok kepuncak bukit dengan bunga ilalang yang memutih diselingi nyanyian burung murai yang berlompatan dari ranting ke ranting pepohonan di kejauhan dengan aroma kembang hutan yang diterbangkan semilir angin sepoi-sepoi.

                                           ***
Butuh waktu untuk dapat mrnjalin komunikasi denganmu. Sampai ketika suatu hari kita tengah berada diantara mereka berselancar dalam dunia yang ramai ini namun menurutku tetapa saja sepi. Kala itu ada yang berbeda dari saat pertama melihatmu. Namun wajah itu tak mungkin membohongiku, kalau dia begitu sering bermain dalam dunia sepiku jauh sebelum kutahu namamu yang setiap saat bisa berganti.

Kala itu kuberanikan diri menyapamu. " Hai...Apa kabar ? " enter, sebuah pesan obrolan terkirim.

" Kabar baik. Ada yang bisa saya bantu ? " jawabmu setelah sekian menit menunggu.

Ahirnya obrolan demi obrolan berhasil kita bangun, dan kufikir kehadiranmu telah menajdikan ramai hari-hariku yang  sepi ditengah bising. Dan aku merasa tidak ada sesuatu hal yang menghalangimu untuk berbagi denganku.

Sampai pun ketika memilih wajah itu untuk menjadi bagian dari sesuatu yang seharusnya kulakukan  atas persetujuanmu, perasaan tentang engkau yang tak terhalangi  untuk berbagi masih belum berganti. Hingga akhirnya kutahu darimu tak seharusnya itu terjadi. Dan hari-hari berikutnya mengertilah aku mengapa dan memamng sebuah kesalahan besar telah kulakukan.

"Aku minta maaf ya sudah bikin kamu kecewa...! aku brterimah kasih karena kamu telah mengorbankn perasaanmu terhadap diriku. Aku akan selalu mengenangnya. Semoga di dunia nyata kamu bisa menemukan sosok yang lebih berarti dari aku. Amin !" ucapmu dalam sebuah pesan yang kau kirim.

Membaca pesan itu, seketika saya menemukan diri telah terlempar jauh kemasa silam. Masa saat ketika tengah berada dalam sebuah suasana. Suasana serupa hendak melepas seseorang yang begitu sangat berarti dalam hidup yang hendak akan pergi dan entah akan kembali.

Kala itu, di suatu senja.  Matahari sore seakan turut bersedih dengan cahayanya yang basah berkilau diatas bukt-bukit ombak yang tak lagi biru.

"Tidak. Tidak ada yang salah. Engkau tidak mesti minta maaf padaku. Aku senang telah mengenal kamu karena mengingatkanku pada wajah seseorang yang telah menjadi bagian dari masa yang telah berlalu dari kisah perjalanan hidupku. Dan aku tahu mustahil memutar kembali waktu yang telah pergi untuk kembali selain menghadirkannya sebagai kenangan. Enkau tentu bisa memahami itu. Iya kan ?” tulisku dalam sebuah pesan.

“Kecewa yang ada mungkin hanya pada kenyataan yang ternyata hanya sebuah kenangan yang bangkit dari mengenalmu. Dan ku fikir, itu juga tidak salah. Jadi siapa yang mesti dimaafkan selain diriku yang tidak mampu bedakan antara kenangan dan kenyataan ? Dan engkau tidak tahu itu. Aku yang seharusnya sadar. Sebab aku yang sepantasnya mohon maaf atas ketidak sadaran itu sebelumnya. Maaf"  pesan yang kutulis mungkin terlalu panjang.

“ Benar. aku tidak tahu sama sekali apa yang terjadi denganmu. Begitu berartikah mengenal diriku buat kamu ? Menurutku untuk apa menghadirkan kenangan itu kalau hanya kenangan pahit, ?" katamu dalam pesan saat kubuka di pesan masuk.

" Bukan kenangan pahit. Tapi kita kadang tak bisa memilih. Namun saranmu akan menjadi masukan buat aku. Seharusnya aku menyadari, betapa waktu telah mengantarkan aku dalam sebuah episode dari kisah kehidupan dengan peran dan skenario yang berbeda.

Tapi harus diakui, kita yang ada sekarang adalah bagian dan produk dari masa lalu.
Masa lalu yang sedikit banyak telah memberi warna pada kita dalam memandang dan mennjalani hari-hari dari hidup yang sedang dijalani." Kembali kubalas pesan darimu. Kali ini masih agak panjang.

"Tapi aku ingin tahu satu hal dari kamu mengenai diriku. Apakh kamu memiliki perasaan lain selain rasa kagum terhadap ku ? Maaf kalau aku lancang menanyakan hal itu ! kalau bisa di jawablah dengan bahasa yang bisa aku mengerti. He…he…he !" pesanmu kali ini membuatku sedikit bergetar. Katamu aku sangat sering menulis kalimat dengan bahasa yang susah dimengerti.

" Perasaan lain itu ada. Namun, aku bingung serta tak berani menyimpulkan perasaan itu apa dan bagaimana membahasakannya. Karena aku sendiri tidak yakin sebab itu mustahil.

Yang bisa aku gambarkan untukmu adalah,  aku  merasa begitu sedih, dan bertahan untuk tidak meneteskan air mata setiap kali sedang berada di depan layar komputer dan menatap foto itu. Dan perasaan itu makin kuat menyerangku saat menyadari adalah merupakan sesuatu yang tidak sepantasnya bila aku harus mengenal dirimu lebih dari itu.

Seakan aku berada dalam sebuah situasi ketika  akan melepas seorang yang begitu berarti dalam hidup dan hendak pergi meninggalkan aku. Dimana, saat kepergiannya itu adalah merupakan hari pertemuan terakhir dengannya.
Tapi. perasan itu hadirnya sesaat karena dengan segerah akan aku tepis dan coba untuk tidak lebih lama berada dalam dunia khayal, serta secepatnya menarik diri kembali berpijak pada kenyataan."

" Berpijak pada kenyataan . Itu adalah hal yang paling bijak untuk kita lakukan. Kita tidak seharusnya terbelenggu oleh dunia khayal. Banyak hal yang semestinya kita tidak terlalu percaya dalam dunia maya ini. Tapi mengenai perasaan itu aku bisa memahami dan itu tdak akan aku lupakan. Insya Allah. Dan semoga dengan adanya semua ini, kita bisa menjadi sahabat sejati. Ya ? Bangkitlah sobat. Kita masih bisa berbagi kok. Ok ?" ucapmu.

Mengingat kata yang kau ucapkan itu, aku benar - benar nyaris kehilangan kata yang bisa dirangkai sekedar menggambarkan sedikit rasa yang mampu terungkap dari sekian banyak perasaan yang campur-aduk. Namun aku tetap harus bertahan. Dan hanya dengan mencoba menata kepingan-kepingan kenangan terindah yang pernah ada yang mampu menghalau rasa sedih yang entah dari mana hingga yang tampak adalah sebuah senyum yang di kemas dari hati yang berusaha menyelami untuk bisa memahami setiap kata yang pernah ada.

Semoga kata itu adalah ungkapan yang lahir dari hati yang hendak menjalin sebuah persahabatan sejati. Dan berharap adalah satu cara untuk menjaga senyum itu tidak segerah berlalu. Sulit membayangkan akan bagaimana akhir kisah hidup seseorang yang berhenti dari berharap.

Namun kata itu tak akan cukup memberi arti dengan selesai diucapkan. Biarkan waktu membawa kita pada suatu masa di mana kita menyadari bahwa hari ini dan setiap hari yang akan terlewati telah menjadi sejarah yang akan jadi bukti betapa kita tak pernah lupa pada apa yang pernah ada dan pernah terucap. Lalu hari itu biarkan orang menilai dan mencatat sebagai bukti jika itu disebut sahabat sejati



Wajah -Wajah

Sejak terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi, saya menjalani dua profesi dengan dua tuntutan tugas sekaligus yang sama-sama menguji kesabaran. Sebagai seorang guru di sebuah sekolah dasar, setiap hari kecuali Ahad, saya di hadapakan pada wajah-wajah polos yang kadang konyol. Dan sebagai seorang mahasiswa, tiga sampai empat kali dalam semiggu, tak terkecuali Ahad, dihadapkan pada wajah-wajah dosen yang kadang terlihat kaku dan wajah-wajah teman yang lebih banyak cuek diantara sedikit yang tegang. Tetapi beberapa diantara kami menjalani itu untuk sedikit meningkatkan kualitas profesi.  Selainnya, dan itu jauh lebih banyak, adalah demi satu tujuan; syarat mendapatkan sertivikat profesi yang dengan itu bisa menghitung berapa tunjangan perbulan. Jadi, sebenarnya adalah demi kesejahteraan.

Sebagai guru. Saat berada di kelas, menghadapi wajah-wajah itu, wajah polos di bawah usia yang juga kadang membuat tensi darah saya meningkat, berbagai perasaan berkecamuk dalam dada. Sebab, pada diri merekalah, ditentukan nasib bangsa dan daerah ini di masa depan. Dan tanggung jawab saya sebagai guru dan orang yang mendahului mereka lahir, untuk membantu mereka merancang masa depan. Namun tanggung jawab itu tidak bisa terlaksana sepenuhnya. Terlalu banyak masalah yang mengusik saya yang lalu menimbulkan kegundahan. Dan kegundahan itu hanya bisa sedikit terobat, ketika saya coba menikmati tingkah mereka dengan memandangnya sebagai atraksi yang menggelikan.
Tapi sejak menjalani perkuliahan dengan tugas-tugas yang menumpuk, sepertinya tidak ada lagi waktu untuk saya sedikit bersantai dengan wajah-wajah itu.

Saya sepenuhnya sadar, menjadi seorang guru adalah tugas mulia yang tidak semua orang bisa menjalani. Tidak cukup bekal pendidikan tinggi dan setumpuk kecerdasan untuk menjadi seorang yang benar-benar guru. Menjadi seorang guru bukan hanya sebuah atribut pekerjaan yang dilekatkan. Terlalu sering  seseorang memilih bidang pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan berdasarkan peluang. Dan peluang bekerja dan bergelut di bidang pendidikan atau guru selalu terbuka lebar. Tanda begitu penting arti sebuah pendidikan.

Menjadi seorang guru dituntut lebih banyak kesabaran. Selain bersentuhan langsung dengan jiwa anak-anak yang lebih banyak belum mengerti apa-apa,  dan tugas saya sebagai guru untuk membuatnya lebih banyak mengerti berbagai hal, persoalan politik, pemerintahan dan kebijakannya terhadap peningkatan kesejahteraan, kadang mengusik saya dalam mengajar sekaligus belajar, sehingga dalam mengajar bentuknya malah lebih sering  tidak mendidik.

Saya memang tidak banyak mengerti, sesungguhnya apa, bagaimana dan yang terjadi dengan politik, pemerintahan dan para pengambil kebijakan. Tapi nasib akan lebih baik yang selama ini dijanjikan setiap kali mereka, para pemeran politikus itu ramai-ramai berwajah polos dalam gambar yang memenuhi sisi jalan, sepertinya kian jauh dari kami masyarakat kecil. Sehingga tak salah, bila melihat gambar itu yang terbaca di hati kami adalah, hati-hati sering  terjadi kekecewaan. Serupa peringatan rambu lalulintas di pinggir jalan, Hati-Hati Sering Terjadi Kecelakaan !

Perhatian politikus yang kini duduk di pemerintahan pada kesejahteraan kami sepertinya dikalahkan oleh perhatian politikus dan wakil rakyat terhadap persoalan bagi-bagi kekuasaan. Hingga persoalan hak yang katanya seharusnya kami peroleh kini malah menjadi komuditas politik, dan oleh sebab itu yang ada malah menjadi semacam bagi-bagi kesejahteraan. Padahal saya tahu saya bisa jadi guru juga mahasisawa sekarang ini, karena jasa guru. Tapi yang duduk di dewan dan pemerintahan, saya tidak tahu karena atas jasa siapa ? Yang saya tahu, mereka juga pernah jadi anak sekolah.

Saya mengerti, menjadi guru adalah tugas mulia dan saya sadar pada pilihan itu. Tapi saya tidak pernah secara sadar memilih menjadi seorang manusia yang selalu dipenuhi perasaan-perasaan yang menyesakkan dada acap kali melihat wajah para politikus dan pejabat yang berlagak polos melihat nasib rakyat kecil seperti kami yang benar-benar polos didera bencana,  sehingga saya sebagai guru dan rakyat kecil kadang  kehilangan kesabaran dalam berbagi dengan  wajah-wajah yang benar-benar polos itu di kelas.

                                               ***

Hari itu saya kembali menatap wajah-wajah polos anak-anak didik saya di antara deretan-dertan bangku. Tugas-tugas kuliah yang memaksa saya harus tidur larut malam dan pagi disuguhi siaran sebuah stasiun TV yang menayangkan berita yang lagi-lagi tentang penjahat pajak yang bebas bersantai di pulau wisata dan di isukan karena  atas undangan seorang  tokoh politik paling sejahtera di negeri ini untuk bertemu, membuat mata saya nanar menatap wajah-wajah itu. Mereka nampak mencemooh saya yang mungkin dianggap bagian dari guru yang lalai mendidik mental mereka yang sekarang jadi pejabat dan kini pun saya sebagai guru telah pula lupa membuat persiapan mengajar.

Saya gelagapan membuat improfisasi agar tidak terlihat tolol dihadapan mereka. Dengan sisa tenaga yang ada saya berusaha tampil maksimal di depan mereka dan coba menjadi seorang yang layak disebut guru  yang baik. Karena tidak disangkal, kata orang, ada juga guru yang, maaf, tidk baik. Tapi mereka, wajah-wajah yang benar-benar polos itu sepertinya benar-benar tidak tahu gerangan apa yang menimpa gurunya. Dengan kepolosannya itu, mereka masih seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan hari ini mereka sudah mulai lebih berani.  Mungkin itu sebuah perubahan pertanda mereka kelak akan lebih baik menata bangsa ini di masa depan. Tapi dalam kondisi seperti sekarang, saya kurang menyukainya.

Dan akhirnya terjadilah apa yang paling saya benci selama ini. Saya menghardik seorang anak yang datang dengan wajah polos meski sedikit terlihat ia merasa telah berbuat sebuah kesalahan. Penggaris panjang ditangan saya hampir saja mendarat di kedua kakinya. Tapi saya segera sadar ini bukan tindakan seorang pendidik yang baik dan saya tidak ingin digelandang ke kantor polisi dan diproses di sana. Saya tidak ingin di tuntut karena melanggar undang-undang perlindungan anak hasil rancangan para politikus dan merusak citra guru di mata masyarakat. Akan banyak guru yang di cibir oleh politikus dan masyarakat karena saya. Meskipun itu tanpa sadar saya lakukan, tapi seorang guru dituntut harus selalu sadar dalam bertindak. Guru harus lebih dari manusia biasa yang sering lalai.

Tapi anak itu belum mengerti gurunya hanya seorang manusia biasa, dan hatinya terpukul. Dia tampak sangat kecewa. Saya tahu dia tidak sedang berbohong. Saya tahu dia membantu orang tuanya dirumah sebelum berangkat kesekolah. Saya tahu dia anak paling cerdas dan patuh diantara anak-anak yang lain di deretan bangku itu. Orang tuanya juga cukup saya kenal dan saya sering sempatkan berkunjung kerumahnya untuk memberikan dorongan kepada anak itu untuk terus belajar agar dapat melakukan perbaikan di masanya.

Sebenarnya semua itu hanya kebetulan. Dia terlambat di saat yang tidak tepat dan saya tahu dia menangis buakan karena caci maki saya. Tapi karena merasa telah kehilangan seorang vigur. Kehilangan seorang guru yang selam ini menjadi anutannya. Dan kini saya yang menagis karena dia. Karena wajah polo situ.

                                               ***

Tiba di kampus hari itu, saya harus menelan kecewa. Sepanjang jalan diguyur hujan dan harus pulang karena tak seorang pun yang seharusnya saya temui ada di sana. Sepanjang jalan pulang ke rumah saya terus mengumpat dan memaki dalam hati. Untuk bisa sampai kerumah saya harus pindah dari satu angkot ke angkot yang lain. Jalan yang di lalui sore itu tampak terendam banjir di selingi wajah-wajah orang-orang yang terlihat cemas. Banjir sore itu lain dari banjir-banjir sebelumnya yang menjadi langganan setiap tahunnya bahkan malah kini lebih sering. Saya dan penumpang yang lain harus rela basah sepanjang lebih satu kilo meter. Sopir mobil yang saya tumpangi tidak berani ambil resiko.

" Airnya terlalu deras. Saya sampai di sini saja. Di ujung sana mungkin ada mobil lain." Berkata sopir mobil itu.

Mungkin ia takut rugi. Meskipun harga bensin telah turun. Tapi harga suku cadang kendaraan yang selama ini digunakan untuk mengais rezeki tetap melambung tinggi. Dan ia tak mau menanggung keruskan bila tetap memaksakan diri. Kami sebagai penumpang harus lebih banyak mengerti dan sabar karenanya. Toh, tarif angkutan umum yang di tentukan pemerintah mereka  patuhi.

Berselang beberapa jam tiba di rumah. Dunia seperti hendak kiamat. Di sana-sini yang tampak adalah riak air deras mengalir dengan gemuruh yang menelan suara minta tolong dari orang-orang yang rumahnya tersapu banjir. Wajah-wajah penuh diliputi ketakutan.  Pohon-pohon tumbang dan lumpur menyatu menerjang ke sana-kemari. Dan semua itu terjadi begitu cepat. Namun, derita dan pilu berlalu tidak secepat hantaman dan terjangan itu. Rumah-rumah penduduk porak-poranda. Pasar, kantor-kantor dan sekolah yang menjadi tumpuan harapan wajah-wajah polos itu raib entah ke mana.

Suami kehilangan istri dan anak. Petani kehilangan sawah dan ladang. Dan yang lebih menyedihkan diantara yang kehilangan itu ada yang kehilangan segala-galanya. Bahkan ada yang dirinya hilang entah dimana.

Dan kini saya kehilangan wajah diantara wajah-wajah itu. Anak itu.  Anak dengan wajah polos beberapa hari lalu yang menjadi pelampiasan kekesalan saya ditemukan tewas tertimbun lumpur dan kayu-kayu gelondongan yang entah berasal dari mana. Menurut berita yang ditulis sebuah surat kabar, ia ditemukan kaku dalam keadaan memeluk adiknya yang telah menjadi mayat tidak jauh dari tempat dimana saudaranya yang lain sebelumnya ditemukan  juga dalam keadaan tidak bernyawa.

" Ia mungkin sedang berusaha menyelamatkan adiknya namun tidak berdaya menghalau kayu-kayu itu. Apalagi dia tidak seorang diri." Kata salah seorang tetangga yang terakhir melihat anak itu sesaat sebelum  ia sendiri menemukan dirinya  terdampar dan berhasil menyelamatkan diri.

                                              ***

Saya terpaku menatap tanah merah pekuburan itu. Terbayang kembali wajah sesal saat saya caci maki di depan kelas beberapa hari lalu. Dalam hati saya berucap; " Maafkan kami. Engkau telah menebus kesalahan-kesalahan kami yang belum sempat engkau mengerti."